ATIB KOAMABAI By : HIPBURO - KLIKOKE
  • ATIB KOAMABAI By : HIPBURO


    Atib Ko Ambai adalah ritual relegius tahunan yang dilaksanakan dihari ke 3 lebaran yang hanya boleh diikuti lelaki. Atib Ko  Ambai ini dilaksanakan di  Kubu (wilayah administrasi Kecamatan Kubu dan Kecamatan Kubu Babussalam) kabupaten Rokan Hilir provinsi Riau.

    Atib yang menggunakan sampan/boat dari sepanjang sungai  hingga ke Tanjung Lumba-Lumba, Kuala Kubu.

    Sebelum atib dimulai, peserta atib berkumpul di makam terlebih dahulu, makam ulama yang menyebarkan Islam ke Kubu pada tahun 1667 M yang bernama Teuku Abdullah Pasai yang berasal dari Aceh.
    (Dok Video Atib Ko Ambai) 
    Adapun disebut makam ke ambai karena dahulu diarea makam terdapat pohon rambai /ambai karena pada masa dahulu masyarakat selalu menggantungkan sesuatu (kain putih dll) dipohon ambai tersebut untuk berniat\bernazar .

    Setelah berdoa dan zikir ke pada Allah Swt  di Area makam lalu Adzan dikumandangkan menandakan atib segera di mulai.

    Adzan dikumandangkan oleh dua muadzin secara bergantian atau sahut menyahut biasa dibilang adzan komba (sama hal nya orang yang ingin berhaji dimasyarakat kubu.

    Adzan komba ini dikumandangkan karena menuju perjalanan jauh) Atib dipimpin oleh seorang Syekh yang sampan/boat nya tak boleh didahului oleh peserta.

    Sudah banyak perubahan-perubahan Atib Ko Ambai yang dulu dan sekarang.

    Diantaranya dulu Atib Ko Ambai menggunakan sampan dayung dan setiap peserta harus membawa dayung sekarang sudah menggunakan sampan mesin ataupun boat, warga yang tidak menggikuti atib harus dirumah dan menutupi rumah hingga rapat dan membakar/mengasapi didepan rumah agar bala yang diusir lurus selama atib berlangsung dan sekarang atib jadi tontonan warga.

    Dulu disekitaran makam terdapat pepohonan dan banyak satwa seperti Kera,  sekarang di Areal makam sudah tidak ada lagi pepohonan melainkan perkebunan sawit sehingga satwa seperti kera yang biasanya hidup dipepohonan sekitar makam sudah tak terlihat lagi.

    Bahkan Makam tersebut terkesan menumpang di Lahan perkebunan warga, padahal makam tersebut sudah ratusan tahun lamanya.

    Perlu adanya pembebasan lahan disekitar makam untuk menanam lagi pepohonan seperti dahulu agar satwa seperti kera kembali ke habitatnya  dan dipinggir sungai  perlu ditanam tumbuhan Mangrove agar abrasi tidak terlalu parah.

    Atib ini pada mulanya dilaksanakan karena pada masa itu masyarakat Kubu mendapat wabah penyakit kolera masyarakat setempat dulu menyebut penyakit kolera ini dengan nama Ta'un, Ta'un inilah yang sangat ditakuti masyarakat Kubu terdahulu karena penyakit ini dengan cepat menular oleh karena wabah ini semakin membahayakan maka pemuka agama saat itu(tahun pasti belum diketahui) membuatlah sebuah ritual Atib agar menolak wabah/bala dari Kubu, maka pemuka agama dan masyarakat ber atiblah (berdoa dan zikir kepada Allah Swt) menggunakan sampan untuk membuang bala ke muara Sungai kubu karena masa itu masyarakat Kubu masih menggunakan transportasi sungai\laut.

    Setelah sampai ke muara sungai Kubu maka di Kumandangkan Adzan menandakan berakhirnya Atib tersebut di dimuara Kubu itu lah bala atau penyakit itu dibuang.
    Aliansi Pemuda/i Peduli Budaya Foto Bersama Keluarga Camat Kubu
    Foto Bersama Datuk Penghulu Teluk Nilap Kec. Kubu
    Foto Ketua Dewan Kesenian Kecamatan Bangko
    & Ketua Dewan Kesenian Kecamatan Kubu - Kuba

     -Aliansi Pemuda Peduli Budaya Rohil-
    Terima kasih kepada DKD Kubu\Kuba, Penghulu Teluk Nilam , Camat Kubu Babussalam dan rekan-rekan mahasiswa di Kubu dan Masyarakat Kubu telah membantu kami dalam proses peliputan dan penelitian mengenai Atib Ko Ambai.

    ATIB KOAMABAI Kecamatan Kubu & Kuba 27 Juni 2017

    #Aliansipemudapedulibudayarohil
    #Atibkoambai
    #Kubu
    #Rokanhilir
    #ayokerohil
    #riaumenyapadunia
    #ayokeriau
    #pesonaindonesia
  • You might also like

Technology

Flickr Images


Atib Ko Ambai adalah ritual relegius tahunan yang dilaksanakan dihari ke 3 lebaran yang hanya boleh diikuti lelaki. Atib Ko  Ambai ini dilaksanakan di  Kubu (wilayah administrasi Kecamatan Kubu dan Kecamatan Kubu Babussalam) kabupaten Rokan Hilir provinsi Riau.

Atib yang menggunakan sampan/boat dari sepanjang sungai  hingga ke Tanjung Lumba-Lumba, Kuala Kubu.

Sebelum atib dimulai, peserta atib berkumpul di makam terlebih dahulu, makam ulama yang menyebarkan Islam ke Kubu pada tahun 1667 M yang bernama Teuku Abdullah Pasai yang berasal dari Aceh.
(Dok Video Atib Ko Ambai) 
Adapun disebut makam ke ambai karena dahulu diarea makam terdapat pohon rambai /ambai karena pada masa dahulu masyarakat selalu menggantungkan sesuatu (kain putih dll) dipohon ambai tersebut untuk berniat\bernazar .

Setelah berdoa dan zikir ke pada Allah Swt  di Area makam lalu Adzan dikumandangkan menandakan atib segera di mulai.

Adzan dikumandangkan oleh dua muadzin secara bergantian atau sahut menyahut biasa dibilang adzan komba (sama hal nya orang yang ingin berhaji dimasyarakat kubu.

Adzan komba ini dikumandangkan karena menuju perjalanan jauh) Atib dipimpin oleh seorang Syekh yang sampan/boat nya tak boleh didahului oleh peserta.

Sudah banyak perubahan-perubahan Atib Ko Ambai yang dulu dan sekarang.

Diantaranya dulu Atib Ko Ambai menggunakan sampan dayung dan setiap peserta harus membawa dayung sekarang sudah menggunakan sampan mesin ataupun boat, warga yang tidak menggikuti atib harus dirumah dan menutupi rumah hingga rapat dan membakar/mengasapi didepan rumah agar bala yang diusir lurus selama atib berlangsung dan sekarang atib jadi tontonan warga.

Dulu disekitaran makam terdapat pepohonan dan banyak satwa seperti Kera,  sekarang di Areal makam sudah tidak ada lagi pepohonan melainkan perkebunan sawit sehingga satwa seperti kera yang biasanya hidup dipepohonan sekitar makam sudah tak terlihat lagi.

Bahkan Makam tersebut terkesan menumpang di Lahan perkebunan warga, padahal makam tersebut sudah ratusan tahun lamanya.

Perlu adanya pembebasan lahan disekitar makam untuk menanam lagi pepohonan seperti dahulu agar satwa seperti kera kembali ke habitatnya  dan dipinggir sungai  perlu ditanam tumbuhan Mangrove agar abrasi tidak terlalu parah.

Atib ini pada mulanya dilaksanakan karena pada masa itu masyarakat Kubu mendapat wabah penyakit kolera masyarakat setempat dulu menyebut penyakit kolera ini dengan nama Ta'un, Ta'un inilah yang sangat ditakuti masyarakat Kubu terdahulu karena penyakit ini dengan cepat menular oleh karena wabah ini semakin membahayakan maka pemuka agama saat itu(tahun pasti belum diketahui) membuatlah sebuah ritual Atib agar menolak wabah/bala dari Kubu, maka pemuka agama dan masyarakat ber atiblah (berdoa dan zikir kepada Allah Swt) menggunakan sampan untuk membuang bala ke muara Sungai kubu karena masa itu masyarakat Kubu masih menggunakan transportasi sungai\laut.

Setelah sampai ke muara sungai Kubu maka di Kumandangkan Adzan menandakan berakhirnya Atib tersebut di dimuara Kubu itu lah bala atau penyakit itu dibuang.
Aliansi Pemuda/i Peduli Budaya Foto Bersama Keluarga Camat Kubu
Foto Bersama Datuk Penghulu Teluk Nilap Kec. Kubu
Foto Ketua Dewan Kesenian Kecamatan Bangko
& Ketua Dewan Kesenian Kecamatan Kubu - Kuba

 -Aliansi Pemuda Peduli Budaya Rohil-
Terima kasih kepada DKD Kubu\Kuba, Penghulu Teluk Nilam , Camat Kubu Babussalam dan rekan-rekan mahasiswa di Kubu dan Masyarakat Kubu telah membantu kami dalam proses peliputan dan penelitian mengenai Atib Ko Ambai.

ATIB KOAMABAI Kecamatan Kubu & Kuba 27 Juni 2017

#Aliansipemudapedulibudayarohil
#Atibkoambai
#Kubu
#Rokanhilir
#ayokerohil
#riaumenyapadunia
#ayokeriau
#pesonaindonesia

Atib Ko Ambai adalah ritual relegius tahunan yang dilaksanakan dihari ke 3 lebaran yang hanya boleh diikuti lelaki. Atib Ko  Ambai ini dilaksanakan di  Kubu (wilayah administrasi Kecamatan Kubu dan Kecamatan Kubu Babussalam) kabupaten Rokan Hilir provinsi Riau.

Atib yang menggunakan sampan/boat dari sepanjang sungai  hingga ke Tanjung Lumba-Lumba, Kuala Kubu.

Sebelum atib dimulai, peserta atib berkumpul di makam terlebih dahulu, makam ulama yang menyebarkan Islam ke Kubu pada tahun 1667 M yang bernama Teuku Abdullah Pasai yang berasal dari Aceh.
(Dok Video Atib Ko Ambai) 
Adapun disebut makam ke ambai karena dahulu diarea makam terdapat pohon rambai /ambai karena pada masa dahulu masyarakat selalu menggantungkan sesuatu (kain putih dll) dipohon ambai tersebut untuk berniat\bernazar .

Setelah berdoa dan zikir ke pada Allah Swt  di Area makam lalu Adzan dikumandangkan menandakan atib segera di mulai.

Adzan dikumandangkan oleh dua muadzin secara bergantian atau sahut menyahut biasa dibilang adzan komba (sama hal nya orang yang ingin berhaji dimasyarakat kubu.

Adzan komba ini dikumandangkan karena menuju perjalanan jauh) Atib dipimpin oleh seorang Syekh yang sampan/boat nya tak boleh didahului oleh peserta.

Sudah banyak perubahan-perubahan Atib Ko Ambai yang dulu dan sekarang.

Diantaranya dulu Atib Ko Ambai menggunakan sampan dayung dan setiap peserta harus membawa dayung sekarang sudah menggunakan sampan mesin ataupun boat, warga yang tidak menggikuti atib harus dirumah dan menutupi rumah hingga rapat dan membakar/mengasapi didepan rumah agar bala yang diusir lurus selama atib berlangsung dan sekarang atib jadi tontonan warga.

Dulu disekitaran makam terdapat pepohonan dan banyak satwa seperti Kera,  sekarang di Areal makam sudah tidak ada lagi pepohonan melainkan perkebunan sawit sehingga satwa seperti kera yang biasanya hidup dipepohonan sekitar makam sudah tak terlihat lagi.

Bahkan Makam tersebut terkesan menumpang di Lahan perkebunan warga, padahal makam tersebut sudah ratusan tahun lamanya.

Perlu adanya pembebasan lahan disekitar makam untuk menanam lagi pepohonan seperti dahulu agar satwa seperti kera kembali ke habitatnya  dan dipinggir sungai  perlu ditanam tumbuhan Mangrove agar abrasi tidak terlalu parah.

Atib ini pada mulanya dilaksanakan karena pada masa itu masyarakat Kubu mendapat wabah penyakit kolera masyarakat setempat dulu menyebut penyakit kolera ini dengan nama Ta'un, Ta'un inilah yang sangat ditakuti masyarakat Kubu terdahulu karena penyakit ini dengan cepat menular oleh karena wabah ini semakin membahayakan maka pemuka agama saat itu(tahun pasti belum diketahui) membuatlah sebuah ritual Atib agar menolak wabah/bala dari Kubu, maka pemuka agama dan masyarakat ber atiblah (berdoa dan zikir kepada Allah Swt) menggunakan sampan untuk membuang bala ke muara Sungai kubu karena masa itu masyarakat Kubu masih menggunakan transportasi sungai\laut.

Setelah sampai ke muara sungai Kubu maka di Kumandangkan Adzan menandakan berakhirnya Atib tersebut di dimuara Kubu itu lah bala atau penyakit itu dibuang.
Aliansi Pemuda/i Peduli Budaya Foto Bersama Keluarga Camat Kubu
Foto Bersama Datuk Penghulu Teluk Nilap Kec. Kubu
Foto Ketua Dewan Kesenian Kecamatan Bangko
& Ketua Dewan Kesenian Kecamatan Kubu - Kuba

 -Aliansi Pemuda Peduli Budaya Rohil-
Terima kasih kepada DKD Kubu\Kuba, Penghulu Teluk Nilam , Camat Kubu Babussalam dan rekan-rekan mahasiswa di Kubu dan Masyarakat Kubu telah membantu kami dalam proses peliputan dan penelitian mengenai Atib Ko Ambai.

ATIB KOAMABAI Kecamatan Kubu & Kuba 27 Juni 2017

#Aliansipemudapedulibudayarohil
#Atibkoambai
#Kubu
#Rokanhilir
#ayokerohil
#riaumenyapadunia
#ayokeriau
#pesonaindonesia

Atib Ko Ambai adalah ritual relegius tahunan yang dilaksanakan dihari ke 3 lebaran yang hanya boleh diikuti lelaki. Atib Ko  Ambai ini dilaksanakan di  Kubu (wilayah administrasi Kecamatan Kubu dan Kecamatan Kubu Babussalam) kabupaten Rokan Hilir provinsi Riau.

Atib yang menggunakan sampan/boat dari sepanjang sungai  hingga ke Tanjung Lumba-Lumba, Kuala Kubu.

Sebelum atib dimulai, peserta atib berkumpul di makam terlebih dahulu, makam ulama yang menyebarkan Islam ke Kubu pada tahun 1667 M yang bernama Teuku Abdullah Pasai yang berasal dari Aceh.
(Dok Video Atib Ko Ambai) 
Adapun disebut makam ke ambai karena dahulu diarea makam terdapat pohon rambai /ambai karena pada masa dahulu masyarakat selalu menggantungkan sesuatu (kain putih dll) dipohon ambai tersebut untuk berniat\bernazar .

Setelah berdoa dan zikir ke pada Allah Swt  di Area makam lalu Adzan dikumandangkan menandakan atib segera di mulai.

Adzan dikumandangkan oleh dua muadzin secara bergantian atau sahut menyahut biasa dibilang adzan komba (sama hal nya orang yang ingin berhaji dimasyarakat kubu.

Adzan komba ini dikumandangkan karena menuju perjalanan jauh) Atib dipimpin oleh seorang Syekh yang sampan/boat nya tak boleh didahului oleh peserta.

Sudah banyak perubahan-perubahan Atib Ko Ambai yang dulu dan sekarang.

Diantaranya dulu Atib Ko Ambai menggunakan sampan dayung dan setiap peserta harus membawa dayung sekarang sudah menggunakan sampan mesin ataupun boat, warga yang tidak menggikuti atib harus dirumah dan menutupi rumah hingga rapat dan membakar/mengasapi didepan rumah agar bala yang diusir lurus selama atib berlangsung dan sekarang atib jadi tontonan warga.

Dulu disekitaran makam terdapat pepohonan dan banyak satwa seperti Kera,  sekarang di Areal makam sudah tidak ada lagi pepohonan melainkan perkebunan sawit sehingga satwa seperti kera yang biasanya hidup dipepohonan sekitar makam sudah tak terlihat lagi.

Bahkan Makam tersebut terkesan menumpang di Lahan perkebunan warga, padahal makam tersebut sudah ratusan tahun lamanya.

Perlu adanya pembebasan lahan disekitar makam untuk menanam lagi pepohonan seperti dahulu agar satwa seperti kera kembali ke habitatnya  dan dipinggir sungai  perlu ditanam tumbuhan Mangrove agar abrasi tidak terlalu parah.

Atib ini pada mulanya dilaksanakan karena pada masa itu masyarakat Kubu mendapat wabah penyakit kolera masyarakat setempat dulu menyebut penyakit kolera ini dengan nama Ta'un, Ta'un inilah yang sangat ditakuti masyarakat Kubu terdahulu karena penyakit ini dengan cepat menular oleh karena wabah ini semakin membahayakan maka pemuka agama saat itu(tahun pasti belum diketahui) membuatlah sebuah ritual Atib agar menolak wabah/bala dari Kubu, maka pemuka agama dan masyarakat ber atiblah (berdoa dan zikir kepada Allah Swt) menggunakan sampan untuk membuang bala ke muara Sungai kubu karena masa itu masyarakat Kubu masih menggunakan transportasi sungai\laut.

Setelah sampai ke muara sungai Kubu maka di Kumandangkan Adzan menandakan berakhirnya Atib tersebut di dimuara Kubu itu lah bala atau penyakit itu dibuang.
Aliansi Pemuda/i Peduli Budaya Foto Bersama Keluarga Camat Kubu
Foto Bersama Datuk Penghulu Teluk Nilap Kec. Kubu
Foto Ketua Dewan Kesenian Kecamatan Bangko
& Ketua Dewan Kesenian Kecamatan Kubu - Kuba

 -Aliansi Pemuda Peduli Budaya Rohil-
Terima kasih kepada DKD Kubu\Kuba, Penghulu Teluk Nilam , Camat Kubu Babussalam dan rekan-rekan mahasiswa di Kubu dan Masyarakat Kubu telah membantu kami dalam proses peliputan dan penelitian mengenai Atib Ko Ambai.

ATIB KOAMABAI Kecamatan Kubu & Kuba 27 Juni 2017

#Aliansipemudapedulibudayarohil
#Atibkoambai
#Kubu
#Rokanhilir
#ayokerohil
#riaumenyapadunia
#ayokeriau
#pesonaindonesia
ATIB KOAMABAI By : HIPBURO

ATIB KOAMABAI By : HIPBURO


Atib Ko Ambai adalah ritual relegius tahunan yang dilaksanakan dihari ke 3 lebaran yang hanya boleh diikuti lelaki. Atib Ko  Ambai ini dilaksanakan di  Kubu (wilayah administrasi Kecamatan Kubu dan Kecamatan Kubu Babussalam) kabupaten Rokan Hilir provinsi Riau.

Atib yang menggunakan sampan/boat dari sepanjang sungai  hingga ke Tanjung Lumba-Lumba, Kuala Kubu.

Sebelum atib dimulai, peserta atib berkumpul di makam terlebih dahulu, makam ulama yang menyebarkan Islam ke Kubu pada tahun 1667 M yang bernama Teuku Abdullah Pasai yang berasal dari Aceh.
(Dok Video Atib Ko Ambai) 
Adapun disebut makam ke ambai karena dahulu diarea makam terdapat pohon rambai /ambai karena pada masa dahulu masyarakat selalu menggantungkan sesuatu (kain putih dll) dipohon ambai tersebut untuk berniat\bernazar .

Setelah berdoa dan zikir ke pada Allah Swt  di Area makam lalu Adzan dikumandangkan menandakan atib segera di mulai.

Adzan dikumandangkan oleh dua muadzin secara bergantian atau sahut menyahut biasa dibilang adzan komba (sama hal nya orang yang ingin berhaji dimasyarakat kubu.

Adzan komba ini dikumandangkan karena menuju perjalanan jauh) Atib dipimpin oleh seorang Syekh yang sampan/boat nya tak boleh didahului oleh peserta.

Sudah banyak perubahan-perubahan Atib Ko Ambai yang dulu dan sekarang.

Diantaranya dulu Atib Ko Ambai menggunakan sampan dayung dan setiap peserta harus membawa dayung sekarang sudah menggunakan sampan mesin ataupun boat, warga yang tidak menggikuti atib harus dirumah dan menutupi rumah hingga rapat dan membakar/mengasapi didepan rumah agar bala yang diusir lurus selama atib berlangsung dan sekarang atib jadi tontonan warga.

Dulu disekitaran makam terdapat pepohonan dan banyak satwa seperti Kera,  sekarang di Areal makam sudah tidak ada lagi pepohonan melainkan perkebunan sawit sehingga satwa seperti kera yang biasanya hidup dipepohonan sekitar makam sudah tak terlihat lagi.

Bahkan Makam tersebut terkesan menumpang di Lahan perkebunan warga, padahal makam tersebut sudah ratusan tahun lamanya.

Perlu adanya pembebasan lahan disekitar makam untuk menanam lagi pepohonan seperti dahulu agar satwa seperti kera kembali ke habitatnya  dan dipinggir sungai  perlu ditanam tumbuhan Mangrove agar abrasi tidak terlalu parah.

Atib ini pada mulanya dilaksanakan karena pada masa itu masyarakat Kubu mendapat wabah penyakit kolera masyarakat setempat dulu menyebut penyakit kolera ini dengan nama Ta'un, Ta'un inilah yang sangat ditakuti masyarakat Kubu terdahulu karena penyakit ini dengan cepat menular oleh karena wabah ini semakin membahayakan maka pemuka agama saat itu(tahun pasti belum diketahui) membuatlah sebuah ritual Atib agar menolak wabah/bala dari Kubu, maka pemuka agama dan masyarakat ber atiblah (berdoa dan zikir kepada Allah Swt) menggunakan sampan untuk membuang bala ke muara Sungai kubu karena masa itu masyarakat Kubu masih menggunakan transportasi sungai\laut.

Setelah sampai ke muara sungai Kubu maka di Kumandangkan Adzan menandakan berakhirnya Atib tersebut di dimuara Kubu itu lah bala atau penyakit itu dibuang.
Aliansi Pemuda/i Peduli Budaya Foto Bersama Keluarga Camat Kubu
Foto Bersama Datuk Penghulu Teluk Nilap Kec. Kubu
Foto Ketua Dewan Kesenian Kecamatan Bangko
& Ketua Dewan Kesenian Kecamatan Kubu - Kuba

 -Aliansi Pemuda Peduli Budaya Rohil-
Terima kasih kepada DKD Kubu\Kuba, Penghulu Teluk Nilam , Camat Kubu Babussalam dan rekan-rekan mahasiswa di Kubu dan Masyarakat Kubu telah membantu kami dalam proses peliputan dan penelitian mengenai Atib Ko Ambai.

ATIB KOAMABAI Kecamatan Kubu & Kuba 27 Juni 2017

#Aliansipemudapedulibudayarohil
#Atibkoambai
#Kubu
#Rokanhilir
#ayokerohil
#riaumenyapadunia
#ayokeriau
#pesonaindonesia
ATIB KOAMABAI By : HIPBURO

ATIB KOAMABAI By : HIPBURO


Atib Ko Ambai adalah ritual relegius tahunan yang dilaksanakan dihari ke 3 lebaran yang hanya boleh diikuti lelaki. Atib Ko  Ambai ini dilaksanakan di  Kubu (wilayah administrasi Kecamatan Kubu dan Kecamatan Kubu Babussalam) kabupaten Rokan Hilir provinsi Riau.

Atib yang menggunakan sampan/boat dari sepanjang sungai  hingga ke Tanjung Lumba-Lumba, Kuala Kubu.

Sebelum atib dimulai, peserta atib berkumpul di makam terlebih dahulu, makam ulama yang menyebarkan Islam ke Kubu pada tahun 1667 M yang bernama Teuku Abdullah Pasai yang berasal dari Aceh.
(Dok Video Atib Ko Ambai) 
Adapun disebut makam ke ambai karena dahulu diarea makam terdapat pohon rambai /ambai karena pada masa dahulu masyarakat selalu menggantungkan sesuatu (kain putih dll) dipohon ambai tersebut untuk berniat\bernazar .

Setelah berdoa dan zikir ke pada Allah Swt  di Area makam lalu Adzan dikumandangkan menandakan atib segera di mulai.

Adzan dikumandangkan oleh dua muadzin secara bergantian atau sahut menyahut biasa dibilang adzan komba (sama hal nya orang yang ingin berhaji dimasyarakat kubu.

Adzan komba ini dikumandangkan karena menuju perjalanan jauh) Atib dipimpin oleh seorang Syekh yang sampan/boat nya tak boleh didahului oleh peserta.

Sudah banyak perubahan-perubahan Atib Ko Ambai yang dulu dan sekarang.

Diantaranya dulu Atib Ko Ambai menggunakan sampan dayung dan setiap peserta harus membawa dayung sekarang sudah menggunakan sampan mesin ataupun boat, warga yang tidak menggikuti atib harus dirumah dan menutupi rumah hingga rapat dan membakar/mengasapi didepan rumah agar bala yang diusir lurus selama atib berlangsung dan sekarang atib jadi tontonan warga.

Dulu disekitaran makam terdapat pepohonan dan banyak satwa seperti Kera,  sekarang di Areal makam sudah tidak ada lagi pepohonan melainkan perkebunan sawit sehingga satwa seperti kera yang biasanya hidup dipepohonan sekitar makam sudah tak terlihat lagi.

Bahkan Makam tersebut terkesan menumpang di Lahan perkebunan warga, padahal makam tersebut sudah ratusan tahun lamanya.

Perlu adanya pembebasan lahan disekitar makam untuk menanam lagi pepohonan seperti dahulu agar satwa seperti kera kembali ke habitatnya  dan dipinggir sungai  perlu ditanam tumbuhan Mangrove agar abrasi tidak terlalu parah.

Atib ini pada mulanya dilaksanakan karena pada masa itu masyarakat Kubu mendapat wabah penyakit kolera masyarakat setempat dulu menyebut penyakit kolera ini dengan nama Ta'un, Ta'un inilah yang sangat ditakuti masyarakat Kubu terdahulu karena penyakit ini dengan cepat menular oleh karena wabah ini semakin membahayakan maka pemuka agama saat itu(tahun pasti belum diketahui) membuatlah sebuah ritual Atib agar menolak wabah/bala dari Kubu, maka pemuka agama dan masyarakat ber atiblah (berdoa dan zikir kepada Allah Swt) menggunakan sampan untuk membuang bala ke muara Sungai kubu karena masa itu masyarakat Kubu masih menggunakan transportasi sungai\laut.

Setelah sampai ke muara sungai Kubu maka di Kumandangkan Adzan menandakan berakhirnya Atib tersebut di dimuara Kubu itu lah bala atau penyakit itu dibuang.
Aliansi Pemuda/i Peduli Budaya Foto Bersama Keluarga Camat Kubu
Foto Bersama Datuk Penghulu Teluk Nilap Kec. Kubu
Foto Ketua Dewan Kesenian Kecamatan Bangko
& Ketua Dewan Kesenian Kecamatan Kubu - Kuba

 -Aliansi Pemuda Peduli Budaya Rohil-
Terima kasih kepada DKD Kubu\Kuba, Penghulu Teluk Nilam , Camat Kubu Babussalam dan rekan-rekan mahasiswa di Kubu dan Masyarakat Kubu telah membantu kami dalam proses peliputan dan penelitian mengenai Atib Ko Ambai.

ATIB KOAMABAI Kecamatan Kubu & Kuba 27 Juni 2017

#Aliansipemudapedulibudayarohil
#Atibkoambai
#Kubu
#Rokanhilir
#ayokerohil
#riaumenyapadunia
#ayokeriau
#pesonaindonesia

Labels

Facebook

Search This Blog

Archive

Random Posts

Recent Posts

Recent in Sports

Header Ads

test

Labels

KLIKOKE

Smartphones

RUANGBACA

Author Name

Recent Reviews

Produk Lainnya

Subscribe Us

Produk Terlaris

Sepenggal Kisah Raja di Tanah Bentayan yang Tersohor dengan Sebutan Datuk Batuhampar

Foto diambil dari buku ”Pendekar Mursalim”, karya Sudarno Mahyudin. Dulu kabarnya daerah ini terdapat seorang raja berkuasa, tepatnya di Bentayan yang masuk wilayah Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), Riau. Kisah ini tertulis sebelum daerah ini manjadi daerah kekuasaan Siak. Ini dari tambo bertuliskan Arab Melayu yang sampai kini diwariskan secara turun-temurun. Tak jelas nama kerajaannya, tetapi nama sultan dan makamnya masih ada sampai sekarang. Kisahnya ini bermula dari Tengku Syarif Ali, pangeran kerajaan Samudra Pasai. Ia pergi meninggalkan Kerajaan Pasai setelah kisruh dengan keluarga, tak jelas juga motifnya. Lalu ia terdampar di desa bernama Pembatang. Kedatangan Syarif disambut baik warga tempatan. Termasuk Datuk Rantaubenuang—Datuk satu-satunya di Pembatang—ia langsung menawarkan agar Syarif Ali bermukim di daerah ini. Halima Putih, salah satu putrinya, kemudian ia nikahkan dengan Syarif Ali. Ini mungkin dugaan kuat ada kerajaan kecil, sebab Syarif Ali berasal dari keturunan raja....

Ayo Bergabung didalam Gerakan Pemuda Rohil Peduli Bencana "1000 Komunitas Bagansiapiapi"

Bagansiapiapi, 14 Oktober 2018 Bencana yang belakangan ini terjadi dibeberapa wilayah di Indonesia. Mulai dari Gempa Lombok NTB, Gempa dan Tsunami Sulawesi Tengah, Banjir Bandang dan Longsor di Sumbar, Sumut dan Aceh. 1000 Komunitas Bagansiapiapi sebagai Inisiator mengajak kepada pemuda maupun komunitas untuk bersinergi dalam misi kemanusiaan. Kegiatan ini dinamankan Gerakan Pemuda Rohil Peduli Bencana, Kita akan adakan penggalangan dana dan pementasan seni, serta berdoa bersama untuk saudara kita yang terdampak bencana. Untuk teknis dan susunan panitia akan dibahas pada rapat hari Selasa 16 Oktober 2018 di Bakar Tongkang, Mari ajak kawan-kawan ataupun komunitas dalam kegiatan ini demi menunjukkan rasa kepedulian kita kepada saudara se Tanah Air   yang terdampak Bencana #PrayForIndonesia #dukamerekadukakita "Peduli Sesamo, Bebagi Besamo"
[blogger]